Minggu, 30 Oktober 2016
Satelit SPOT sensor VMI
Nama : Muhammad F. Barcinta
Nim : 2014-64-024
Prodi : Ilmu Kelautan
Satelit SPOT 4 Sensor VMI (Vegetation Monitoring Instrument)
SPOT atau systeme probatoire d’obserfation de la terre merupakan satelit milik perancis. Pada satelit SPOT 4 ditambahkan sensor VMI yang berguna didalam pemantauan untuk wilayah yang luas. Vegetation merupakan program satelit yang dimiliki secara gabungan oleh Perancis, Komisi Eropa, Belgia, Italia, dan Swedia. Komponen satelit ini diluncurkan pada bulan Maret 1998 diatas satelit SPOT 4. Satelit ini dirancang untuk periode harian dan mempunyai resolusi sebagai berikut ;
Resolusi temporal = 1 kali/hari
- Resolusi spasial = 1 km
- Lebar cakupan = 2250 km
- Calibration acuration ;
- Interband and multitemporal = 3%
- Absolute = 5%
- TFOV =
- Pixel size = 1.15 km
- Location accuracy = < 0.5 km
- Local distortion = < 0.3 pixel
Adapun sensor VMI ini menggunakan 4 saluran yang meliputi 2 band sinar tampak biru dan merah (blu and red), 1 band infra merah dekat (NIR, Near infrared), dan 1 band infra mera gelombang pendek (SWIR, Short Wave infrared).
Tabel Karakteristik band pada SPOT 4 sensor VMI.
No.
Band
Panjang gel (µm)
Kegunaan
1.
Blue
0.43-0.47
Penetrasi tubuh air dengan baik sehingga baik untuk pemetaan perairan pantai, pembedaan tanah dan vegetasi, analisa tanah dan air dan pembedaan tumbuhan berdaun lebar dan koniver.
2.
Red
0.61-0.68
Diskriminasi vegetasi yang berguna untuk pembedaan jenis tumbuhan. Puncak penyerapan klorofil pada panjang gelombang 0.665 im sehingga baik untuk inventarisasi vegetasi dan penilaian kesuburan.
3.
Near Infrared
0.78-0.89
Reflektansi vegetasi maksimal terjadi bada band ini yang pada dasarnya berhubungan dengan struktur kanopi dan presentase penutupan vegetasi dipermukaan bumi
4.
Short Wave Infrared
1.58-1.75
Saluran yang peka terhadap akumulasi biomassa vegetasi. Identifikasi jenis tanaman dan memudahkan pembedaan tanah dan tanaman serta lahan dan air.
Jumat, 28 Oktober 2016
Tugas materi kelompok 8
KELOMPOK VIII :
M.Fahrul Barcinta (2014-64-024)
Siti Hajar Rumau(201464043)
Nurjana Mony
Juneita Atibi
Jeron Rumlus
Aristo E. O Hakapaa
*SISTEM PENGINDERAAN JAUH *
¤ Pengertian penginderaan jauh
Penginderaan jauh ialah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang objek, daerah, atau gejala dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap objek, daerah, atau gejala yang dikaji. Sedangkan gambaran yng terekam oleh kamera atau sensor itu disebut dengan citra penginderaan jauh atau disingkat citra.
Tujuan dari pengindraan jauh adalah untuk menyadap data dan informasi dari citra foto dan non-foto dari berbagai obyek di permukaan bumi yang direkam atau di gambarkan oleh alat pengindra buatan (sensor). Sensor yang dimaksud batasan ini adalah alat pengindra seperti kamera, alat penyiam (scanner), dan alat radiometer yang masing-masing dilengkapi detetktor di dalamnya.
Selama empat dasawarsa ini penggunaan pengindraan jauh meningkat disebabkan beberapa hal antara lain:
1. Citra pengidraan jauh menggambarkan obyek, daerah dan gejala di permukaan bumi dengan: wujud dan letak obyek yang sama dengan letak obyek yang sebenarnya, relative lengkap, meliputi daerah luas, sifatnya permanen.
2. Citra foto udara yang bertampalan dapat diihat secara 3 dimensional dengan menggunakan steroskop.
3. Obyek dapat dikenali berdasarkan beda suhu, yakni direkam padacitra inframerah termal.
4. Penggunaan pengindraan jauh untuk kegiatan penelitian dan pemetaan sangat menghemat waktu dan biaya, dan yang lebih penting dengan hasil yang memadai.
5. Pengindraan jauh merupakan satu-satunya cara pemetaan daerah bencana.
6. Karena citra satelit mempunyai periode ulang yang pendek maka citra merupakan alat yang sangat baik sekali untuk memantau perubahan yang terjadi secara cepat.
Komponen-komponen dalam penginderaan jauh
Komponen dan interaksi antar komponen dalam system penginderaan jauh dapat dijelaskan secara ringkas sebagai berikut:
1. Sumber tenaga
Dalam penginderaan ajauh harus memiliki sumber tenaga baik sumber tenaga alamiah maupun sumber tenaga buatan. Tenaga ini mengenai objek di permukaan bumi yang kemudian dipantulkan ke sensor. Ia juga dapat berupa tenaga dari objek yang dipancarkan ke sensor.
Jumlah tenaga matahari yang samapi ke bumi di pengaruhi oleh waktu, lokasi, dan kondisi cuaca. Jumlah tenaga yang diterima di siang hari lebih banyak bila dibandingkan jumlahnya pada pagi atau sore hari. Disaat matahari berada tegak lurus diatas suatu tempat, jumlah tenaga yang diterima lebih besar bila dibandingkan pada saat matahari kedudukannya condong terhadap tempat itu. Karena sinar matahari lebih tersebar dan tidak terpusat pada satu tempat.
Disamping itu, jumlah tenaga yang diterima juga dipengaruhi oleh letah temapat di permukaan bumi. Tempat-tempat diequator menerima tenaga matahari lebih banyak bila dibandingakan terhadap tempat-tempat di lintang tinggi (jauh dari equator).untuk waktu dan letak yang sama, jumlah sinar yang mencapai bumi dapat berbeda bila kondisi cuaca berbeda. Semakin banyak penutupan oleh kabut, asap, dan awan, maka semakin sedikit tenaga yang dapat mencapai bumi.
Jumlah tenaga yang dapat mencapai bumi dapat disajikan dalam rumus berikut :
E = f(w,l,c)
Tenaga yang dapat diterima oleh sensor dapat berupa tenaga pantulan maupun tenaga pancaran yang berasal dari objek di permukaan bumi. Jumlah tenaga yang diterima oleh sensor tergantung dari jumlah tenaga asal dan karakteristik objeknya. Bagi tenaga pantulan, jumlah tenaga yang diterima oleh sensor yaitu sebesar pantulan yang dikalikan tenaga yang mengenai objek tersebut. Bagi tenaga pancaran, jumlah tenaga yang mencapai sensor bargantung atas suhu dan daya pancar objek. Semakin banyak tenaga yang diterima oleh sensor maka akan semakin cerah wujud objeknya pada citra.
2. Atmosfer
Atmosfer membatasi bagian spectrum elektromagnetik yang dapat digunakan dalam pengineraan jauh. Pengaruhnya bersifat selektif terhadap panjang gelombang. Oleh karena itu, maka timbul istilah jendela atmosfer (bagian spektum elektromagnetik yang dapat mencapai bumi). Dalam jendela atmosfer terdapat hambatan atmosfer, yaitu kendala yang di sebabkan oleh hamburan pada spectrum tampak dan serapan yang terjadi pada spectrum inframerah internal.
Interaksi tenaga dari obyek ke sensor senantiasa melewati atmosfer, dan di dalam atmosfer banyak sekali terjadi interksi antara lain:
1. Hamburan
Hamburan Rayleigh merupakan salah satu penyebab utama adanya kabut tipis pada citra. Selain itu ada juga hamburan mie terjadi apabila garis tengah partikel atmosfer sama dengan panjang gelombang tenaga yang didera.
2. Serapan
Merupakan kebalikan dari hamburan yang menyebabakan kehilanga efektif tenaga ke pembentuk atmosfer.
3. Interaksi antara tenaga dan objek
Pengenalan objek biasanya dilakukan dengan menyelidiki karakteristik spectral objek yang tergambar pada citra. Objek yang banyak memantulkan/memancarkan tenaga akan tampak cerah pada citra, sedangkan objek yang pantulannya/pancarannya sedikit maka akan tampak gelap. Namun kadang ada objek yang berlainan tetapi mempunyai karakteristik spectral yang sama atau serupa sehingga menyulitkan penbedaannya pada citra. Hal ini dapat diatasi dengan menyelidiki karakteristik lain selain karakteristik spectral, misalnya bentuk, ukuran, dan pola.
4. Sensor
Tenaga yang dating dari objek dipermukaan bumi diterima dan direkam oleh sensor. Tiap sensor memiliki kepekaan tersendiri terhadap bagian spectrum elektromagnetik. Kemampuan sensor untuk menyajikan gambaran objek terkecil disebut resolusi spasial. Semakin kecil objek yang dapat direkam olehnya, semakin baik kualitas sensornya.
Berdasarkan atas proses perekamannya sensor dibagi dua :
Ø Sensor fotografik
Sensor fotografik proses perekamannya berlangsung dengan cara kimiawi. Tenaga elektromagnetik diterima dan irekam pada lapisan emulsi film yang bila diproses akan menghasilkan foto. Dalam proses ini film berguna sebagai penerima tenaga sekaligus sebagai alat perekamnya.
Ø Sensor elektronik
Sensor elektronik menggunakan tenaga elektrik. Alat penerima dan perekamnya barupa pita magnetic atau detector lainnya, bukan film. Sinyal elektrik yang direkam pada pita magnetic ini kemudian dapat diproses menjadi data visual maupun data digital yang siap dikomputerkan. Pemrosesannya menjadi citra dapat dilakukan dengan dua cara, yakni dengan memotret data yang direkam oleh pita magnetic yang telah iwujudkan secara visual pada sejenis layar televisi, atau dengan menggunakan film perekam khusus. Hsil akhirnya disebut citra penginderaan jauh atau citra.
5. Perolehan data
Perolehan data dapat dilakukan dengan cara manual yakni dengan interpretsi secara visual, dan dapat pula dilakukan dengan cara numerik atau cara digital yaitu dengan cara menggunakan computer.
Dalam pengindraan jauh istilah foto diperuntukkan secara ekskusif bagi citra yang dideteksikan dan direkam pada film. Istilah citraberkaitan dengan setiap produk pictorial, seluruh foto termasuk citra, akan tetapi tidak semua citra berupa foto.
Beberapa system penginderaan jauh
Menurut Lillesand dan Kiefer (1979) membedakan penginderaan jauh berdasarkan cara pengumpulan data dan cara analisisnya sebagai berikut :
1. Berdasarkan cara pengumpulan datanya, dapat dibedakan atas :
Ø Tenaga yang digunakan
System ini dapat menggunakan tenaga pantulan ataupun tenaga pancaran.
Ø Wahana
Dapat berupa system penginderaan jauh dari dirgantara (airborne system) dan dai antariksa (spaceborne system).
2. Berdasarkan atas analisis datanya, dapat dibedakan atas interpretasinya yaitu :
Ø Interpretasi secara visual
Interpretasi secara visual dilakukan dengan menggunakan hasil penginderaan yang berupa data pictorial atau citra.
Ø Interpretasi secara numerik
Interpretasi secara numeruk dilakukan dengan menggunakan hasil penginderaan berupa data digital yang direkam pada pita magnetic.
Hasil interpretasi atau informasi yang berasal dari kedua cara tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk table, peta, dan deskripsi yang dapat dipakai oleh si pengguna.
Lillesand dan kiefer juga membedakan system penginderaan jauh berdasarkan system fotografik dan system elektronik.
Ø system fotografik yaitu :
keunggulannua yaitu :
1. Caranya sederhana
2. Tidak mahal
3. Resolusi spasialnya baik sekali, hal ini disebabkan karena tinggi terbang pesawat udara lebih rendah bila dibandingkan dengan tinggi orbit satelit sehingga skala foto udara pada umumnya lebih basar dari skala citra satelit.
4. Integritas geometriknya baik, yakni data geometric yang dapat disadap dari foto udara bersifat lengkap, seperti jarak, arah luas, beda tinggi.
Ø System elektonik
Mempunyai kelebihan dalam hal penggunaan spectrum yang lebih luas kemampuan yang lebih besar dan lebih pasti dalam membedakan karakteristik spectral objek. Dan proses analisis lebih cepat karena digunakannya computer.
Cracknell (1981) membedakab teknik penginderaan jauh atas tiga system, yaitu :
1. System pasif yang menggunakan tenaga pancaran objek
Penginderaan jauh system pasif yang menggunakan pantulan sinar matahari hanya dapat beroperasi pada siang hari pada cuaca cerah.
2. System pasif yang menggunakan pancaran sinar matahari
Penginderaan jauh system pasif yang menggunakan tenaga pancaran objek atau tenaga termal dapat beroperasi pada siang maupun malam hari, pada cuaca cerah pada umumnya dipilaih saat dimana suhu diantara tiap objek cukup besar sehingga memudahkan pengenalannya pada citra.
3. System aktif yang berupa radar, laser, lidar, dan sebagainya.
Penginderaan jauh system aktif dapat beroperasi pada cuaca berawan atau bahkan dalam keadaan hujan. Kelemahannya terletak pada resolusi spasial yang semakin kasar apabila digunakan panjang gelombang yang semakin besar.
System penginderaan jauh yang ideal
Dalam sistem pengindraan jauh yang ideal komponen yang harus ada meliputi:
1. Sumber tenaga yang seragam
Sumber tenaga akan menyajikan tenaga pada seluruh panjang gelombang, dengan suatu keluaran tetap, diketahui, kualitas tinggi, tidak terganggu pada waktu dan tempat.
2. Atmosfer yang tidak menganggu
Atmosfer yang tidak akan mengubah tenaga dari sumbernya dengan cara apapun.
3. Serangkaian interaksi yang unik antara tenaga dan benda di muka bumi
Interksi ini akan membangkitkan pantulan atau pancaran sinyal yang tidak hanya selektif tehadap panjang gelombang, namun juga diketahui tidak berubah-ubah.
4. Sensor sempurna
Alat ini merrupakan sebuah sensor yang memiliki kepekaan tinggi terhadap seluruh panjang gelombang.
5. Berbagai pengguna data
Para penguna data harus memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai displin ilmu masing-masing maupun cara pengumpulan dan system analisis data pengindraan jauh.
M.Fahrul Barcinta (2014-64-024)
Siti Hajar Rumau(201464043)
Nurjana Mony
Juneita Atibi
Jeron Rumlus
Aristo E. O Hakapaa
*SISTEM PENGINDERAAN JAUH *
¤ Pengertian penginderaan jauh
Penginderaan jauh ialah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang objek, daerah, atau gejala dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap objek, daerah, atau gejala yang dikaji. Sedangkan gambaran yng terekam oleh kamera atau sensor itu disebut dengan citra penginderaan jauh atau disingkat citra.
Tujuan dari pengindraan jauh adalah untuk menyadap data dan informasi dari citra foto dan non-foto dari berbagai obyek di permukaan bumi yang direkam atau di gambarkan oleh alat pengindra buatan (sensor). Sensor yang dimaksud batasan ini adalah alat pengindra seperti kamera, alat penyiam (scanner), dan alat radiometer yang masing-masing dilengkapi detetktor di dalamnya.
Selama empat dasawarsa ini penggunaan pengindraan jauh meningkat disebabkan beberapa hal antara lain:
1. Citra pengidraan jauh menggambarkan obyek, daerah dan gejala di permukaan bumi dengan: wujud dan letak obyek yang sama dengan letak obyek yang sebenarnya, relative lengkap, meliputi daerah luas, sifatnya permanen.
2. Citra foto udara yang bertampalan dapat diihat secara 3 dimensional dengan menggunakan steroskop.
3. Obyek dapat dikenali berdasarkan beda suhu, yakni direkam padacitra inframerah termal.
4. Penggunaan pengindraan jauh untuk kegiatan penelitian dan pemetaan sangat menghemat waktu dan biaya, dan yang lebih penting dengan hasil yang memadai.
5. Pengindraan jauh merupakan satu-satunya cara pemetaan daerah bencana.
6. Karena citra satelit mempunyai periode ulang yang pendek maka citra merupakan alat yang sangat baik sekali untuk memantau perubahan yang terjadi secara cepat.
Komponen-komponen dalam penginderaan jauh
Komponen dan interaksi antar komponen dalam system penginderaan jauh dapat dijelaskan secara ringkas sebagai berikut:
1. Sumber tenaga
Dalam penginderaan ajauh harus memiliki sumber tenaga baik sumber tenaga alamiah maupun sumber tenaga buatan. Tenaga ini mengenai objek di permukaan bumi yang kemudian dipantulkan ke sensor. Ia juga dapat berupa tenaga dari objek yang dipancarkan ke sensor.
Jumlah tenaga matahari yang samapi ke bumi di pengaruhi oleh waktu, lokasi, dan kondisi cuaca. Jumlah tenaga yang diterima di siang hari lebih banyak bila dibandingkan jumlahnya pada pagi atau sore hari. Disaat matahari berada tegak lurus diatas suatu tempat, jumlah tenaga yang diterima lebih besar bila dibandingkan pada saat matahari kedudukannya condong terhadap tempat itu. Karena sinar matahari lebih tersebar dan tidak terpusat pada satu tempat.
Disamping itu, jumlah tenaga yang diterima juga dipengaruhi oleh letah temapat di permukaan bumi. Tempat-tempat diequator menerima tenaga matahari lebih banyak bila dibandingakan terhadap tempat-tempat di lintang tinggi (jauh dari equator).untuk waktu dan letak yang sama, jumlah sinar yang mencapai bumi dapat berbeda bila kondisi cuaca berbeda. Semakin banyak penutupan oleh kabut, asap, dan awan, maka semakin sedikit tenaga yang dapat mencapai bumi.
Jumlah tenaga yang dapat mencapai bumi dapat disajikan dalam rumus berikut :
E = f(w,l,c)
Tenaga yang dapat diterima oleh sensor dapat berupa tenaga pantulan maupun tenaga pancaran yang berasal dari objek di permukaan bumi. Jumlah tenaga yang diterima oleh sensor tergantung dari jumlah tenaga asal dan karakteristik objeknya. Bagi tenaga pantulan, jumlah tenaga yang diterima oleh sensor yaitu sebesar pantulan yang dikalikan tenaga yang mengenai objek tersebut. Bagi tenaga pancaran, jumlah tenaga yang mencapai sensor bargantung atas suhu dan daya pancar objek. Semakin banyak tenaga yang diterima oleh sensor maka akan semakin cerah wujud objeknya pada citra.
2. Atmosfer
Atmosfer membatasi bagian spectrum elektromagnetik yang dapat digunakan dalam pengineraan jauh. Pengaruhnya bersifat selektif terhadap panjang gelombang. Oleh karena itu, maka timbul istilah jendela atmosfer (bagian spektum elektromagnetik yang dapat mencapai bumi). Dalam jendela atmosfer terdapat hambatan atmosfer, yaitu kendala yang di sebabkan oleh hamburan pada spectrum tampak dan serapan yang terjadi pada spectrum inframerah internal.
Interaksi tenaga dari obyek ke sensor senantiasa melewati atmosfer, dan di dalam atmosfer banyak sekali terjadi interksi antara lain:
1. Hamburan
Hamburan Rayleigh merupakan salah satu penyebab utama adanya kabut tipis pada citra. Selain itu ada juga hamburan mie terjadi apabila garis tengah partikel atmosfer sama dengan panjang gelombang tenaga yang didera.
2. Serapan
Merupakan kebalikan dari hamburan yang menyebabakan kehilanga efektif tenaga ke pembentuk atmosfer.
3. Interaksi antara tenaga dan objek
Pengenalan objek biasanya dilakukan dengan menyelidiki karakteristik spectral objek yang tergambar pada citra. Objek yang banyak memantulkan/memancarkan tenaga akan tampak cerah pada citra, sedangkan objek yang pantulannya/pancarannya sedikit maka akan tampak gelap. Namun kadang ada objek yang berlainan tetapi mempunyai karakteristik spectral yang sama atau serupa sehingga menyulitkan penbedaannya pada citra. Hal ini dapat diatasi dengan menyelidiki karakteristik lain selain karakteristik spectral, misalnya bentuk, ukuran, dan pola.
4. Sensor
Tenaga yang dating dari objek dipermukaan bumi diterima dan direkam oleh sensor. Tiap sensor memiliki kepekaan tersendiri terhadap bagian spectrum elektromagnetik. Kemampuan sensor untuk menyajikan gambaran objek terkecil disebut resolusi spasial. Semakin kecil objek yang dapat direkam olehnya, semakin baik kualitas sensornya.
Berdasarkan atas proses perekamannya sensor dibagi dua :
Ø Sensor fotografik
Sensor fotografik proses perekamannya berlangsung dengan cara kimiawi. Tenaga elektromagnetik diterima dan irekam pada lapisan emulsi film yang bila diproses akan menghasilkan foto. Dalam proses ini film berguna sebagai penerima tenaga sekaligus sebagai alat perekamnya.
Ø Sensor elektronik
Sensor elektronik menggunakan tenaga elektrik. Alat penerima dan perekamnya barupa pita magnetic atau detector lainnya, bukan film. Sinyal elektrik yang direkam pada pita magnetic ini kemudian dapat diproses menjadi data visual maupun data digital yang siap dikomputerkan. Pemrosesannya menjadi citra dapat dilakukan dengan dua cara, yakni dengan memotret data yang direkam oleh pita magnetic yang telah iwujudkan secara visual pada sejenis layar televisi, atau dengan menggunakan film perekam khusus. Hsil akhirnya disebut citra penginderaan jauh atau citra.
5. Perolehan data
Perolehan data dapat dilakukan dengan cara manual yakni dengan interpretsi secara visual, dan dapat pula dilakukan dengan cara numerik atau cara digital yaitu dengan cara menggunakan computer.
Dalam pengindraan jauh istilah foto diperuntukkan secara ekskusif bagi citra yang dideteksikan dan direkam pada film. Istilah citraberkaitan dengan setiap produk pictorial, seluruh foto termasuk citra, akan tetapi tidak semua citra berupa foto.
Beberapa system penginderaan jauh
Menurut Lillesand dan Kiefer (1979) membedakan penginderaan jauh berdasarkan cara pengumpulan data dan cara analisisnya sebagai berikut :
1. Berdasarkan cara pengumpulan datanya, dapat dibedakan atas :
Ø Tenaga yang digunakan
System ini dapat menggunakan tenaga pantulan ataupun tenaga pancaran.
Ø Wahana
Dapat berupa system penginderaan jauh dari dirgantara (airborne system) dan dai antariksa (spaceborne system).
2. Berdasarkan atas analisis datanya, dapat dibedakan atas interpretasinya yaitu :
Ø Interpretasi secara visual
Interpretasi secara visual dilakukan dengan menggunakan hasil penginderaan yang berupa data pictorial atau citra.
Ø Interpretasi secara numerik
Interpretasi secara numeruk dilakukan dengan menggunakan hasil penginderaan berupa data digital yang direkam pada pita magnetic.
Hasil interpretasi atau informasi yang berasal dari kedua cara tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk table, peta, dan deskripsi yang dapat dipakai oleh si pengguna.
Lillesand dan kiefer juga membedakan system penginderaan jauh berdasarkan system fotografik dan system elektronik.
Ø system fotografik yaitu :
keunggulannua yaitu :
1. Caranya sederhana
2. Tidak mahal
3. Resolusi spasialnya baik sekali, hal ini disebabkan karena tinggi terbang pesawat udara lebih rendah bila dibandingkan dengan tinggi orbit satelit sehingga skala foto udara pada umumnya lebih basar dari skala citra satelit.
4. Integritas geometriknya baik, yakni data geometric yang dapat disadap dari foto udara bersifat lengkap, seperti jarak, arah luas, beda tinggi.
Ø System elektonik
Mempunyai kelebihan dalam hal penggunaan spectrum yang lebih luas kemampuan yang lebih besar dan lebih pasti dalam membedakan karakteristik spectral objek. Dan proses analisis lebih cepat karena digunakannya computer.
Cracknell (1981) membedakab teknik penginderaan jauh atas tiga system, yaitu :
1. System pasif yang menggunakan tenaga pancaran objek
Penginderaan jauh system pasif yang menggunakan pantulan sinar matahari hanya dapat beroperasi pada siang hari pada cuaca cerah.
2. System pasif yang menggunakan pancaran sinar matahari
Penginderaan jauh system pasif yang menggunakan tenaga pancaran objek atau tenaga termal dapat beroperasi pada siang maupun malam hari, pada cuaca cerah pada umumnya dipilaih saat dimana suhu diantara tiap objek cukup besar sehingga memudahkan pengenalannya pada citra.
3. System aktif yang berupa radar, laser, lidar, dan sebagainya.
Penginderaan jauh system aktif dapat beroperasi pada cuaca berawan atau bahkan dalam keadaan hujan. Kelemahannya terletak pada resolusi spasial yang semakin kasar apabila digunakan panjang gelombang yang semakin besar.
System penginderaan jauh yang ideal
Dalam sistem pengindraan jauh yang ideal komponen yang harus ada meliputi:
1. Sumber tenaga yang seragam
Sumber tenaga akan menyajikan tenaga pada seluruh panjang gelombang, dengan suatu keluaran tetap, diketahui, kualitas tinggi, tidak terganggu pada waktu dan tempat.
2. Atmosfer yang tidak menganggu
Atmosfer yang tidak akan mengubah tenaga dari sumbernya dengan cara apapun.
3. Serangkaian interaksi yang unik antara tenaga dan benda di muka bumi
Interksi ini akan membangkitkan pantulan atau pancaran sinyal yang tidak hanya selektif tehadap panjang gelombang, namun juga diketahui tidak berubah-ubah.
4. Sensor sempurna
Alat ini merrupakan sebuah sensor yang memiliki kepekaan tinggi terhadap seluruh panjang gelombang.
5. Berbagai pengguna data
Para penguna data harus memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai displin ilmu masing-masing maupun cara pengumpulan dan system analisis data pengindraan jauh.
Sabtu, 22 Oktober 2016
Jumat, 21 Oktober 2016
Gambar rumah saya
nama : muhammad f. barcinta
alamat tempat tinggal : jln. boy saidi, desa boiyauw,kecamatan banda, kabupaten maluku tengah, provinsi maluku.
Jumat, 14 Oktober 2016
HAMBATAN – HAMBATAN YANG TERDAPAT PADA JENDLA ATMOSFER SERTA DAMPAK TERHADAP PENGINDRAAN JAUH
INDERAJA KELAUTAN
Oleh :
MUHAMMAD F. BARCINTA
NIM . 2014 – 64 – 024
PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2016
HAMBATAN – HAMBATAN YANG TERDAPAT PADA JENDLA ATMOSFER SERTA DAMPAK DAN PENGARUHNYA TERHADAP PENGINDRAAN JAUH
# Hambatan
Material – material yang melayang dan tersebar diatmosfer berfungsi untuk menghambat, menyerap dan memantulkan tenaga radiasi matahari serta tenaga yang berkaitan dengan pengindraan jauh yang kemudian hambatan itu berupa :
- Hambatan Rayleigh
Hambatan ini terdiri dari material maupun unsur kimia yang sangat ringan seperti nitrogen, oksigen, gasw, ozon dan sebagainya. Hambatan-hambatan ini memiliki9 diameter yang lebi9h kecil dari spectrum tampak . hal ini dicirikan dengan warna langit yang kebiruan. Karena butiran hamburan lebih kecil deibanding panjang gelombang pada spectrum nampak maka banyak tersebar pada saluran biru (0,4 – 0,5 µm). Lillesand dan Kiefer (1979) menyebutkan b ahwa hamburan Rayligh menyebabkan foto hitam putih Nampak berkabut sedangkan pada foto warna memberikan warna baku kebiruan yang mempengaruhi ketajaman objek pada foto.
- Hambatan mie
Hamkbatan jenis ini terisi oleh debu, kabut, asap dan sebagainya. Material – material tersebut memiliki diameter yang hamper sama dengan spectrum tampak karena unsur kebiruan ini menempati lapisan atmosfer yang tersebar dibawah hamburan Rayleigh. Hambatan ini biasanya terletak pada spectrum hijau (0,5 – 0,6 µm).
- Hambatan non solektif
Hambatan ini memiliki spectrum yang lebih besar dari spectrum Nampak dengan material seperti asap, debu, uap air, CO3 dan sebagainya. Hambatan ini memiliki ciri warna langit yang gelap (awan kumolonimbus). Hambatan dari hamburan ini memiliki fungsi yang berbeda tergantung dari unsur kimia atau material yang dikandungna. Kandungan material atau unsur kima tersebut dapat berubah tergantung da5ri kondisi permukaan bumi. Bila semakin banyak hambatan dari hamburan nonsolektif memungkinkan terjadinya penutupan pada atmosfer bagian bawah, unsur kimi mempengaruhi penyebaran pancaran matahari dan pancaran-pancaran yang dilepas menggunakan alat pengindraan jauh. Hambatan ini semakin luas dan mendesak hamburan yang lebih ringan, terutama hambatan dari hamburan unsur karbon.
# Pengaruh dan dampaknya terhadap pengindraan jauh
Akibat adanya hambatn-hambatan yang ada pada jendela atmosfer maka dapat membawa pengaruh yang sangat besar terhadap pengindraan jauh. Pengaruh-pengaruh tersebut dalah sebagai berikut :
- Menghambat proses pengukuran dari suatu objek yang diukur.
- Mengurangi ketajaman dari objek yang diukur. Misalnya: dalam proses foto udara.
- Mengurangi resolusi dan keragaman dari objek pengukuran.
- Tingkat ketilitan dalam membaca data menjadi menurun.
-Bahkan yang lebih parahnya pengukuran tidak sampai pada objek/target karna terhalang oleh hambatan-hambatan yang lebih besar.
Oleh :
MUHAMMAD F. BARCINTA
NIM . 2014 – 64 – 024
PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2016
HAMBATAN – HAMBATAN YANG TERDAPAT PADA JENDLA ATMOSFER SERTA DAMPAK DAN PENGARUHNYA TERHADAP PENGINDRAAN JAUH
# Hambatan
Material – material yang melayang dan tersebar diatmosfer berfungsi untuk menghambat, menyerap dan memantulkan tenaga radiasi matahari serta tenaga yang berkaitan dengan pengindraan jauh yang kemudian hambatan itu berupa :
- Hambatan Rayleigh
Hambatan ini terdiri dari material maupun unsur kimia yang sangat ringan seperti nitrogen, oksigen, gasw, ozon dan sebagainya. Hambatan-hambatan ini memiliki9 diameter yang lebi9h kecil dari spectrum tampak . hal ini dicirikan dengan warna langit yang kebiruan. Karena butiran hamburan lebih kecil deibanding panjang gelombang pada spectrum nampak maka banyak tersebar pada saluran biru (0,4 – 0,5 µm). Lillesand dan Kiefer (1979) menyebutkan b ahwa hamburan Rayligh menyebabkan foto hitam putih Nampak berkabut sedangkan pada foto warna memberikan warna baku kebiruan yang mempengaruhi ketajaman objek pada foto.
- Hambatan mie
Hamkbatan jenis ini terisi oleh debu, kabut, asap dan sebagainya. Material – material tersebut memiliki diameter yang hamper sama dengan spectrum tampak karena unsur kebiruan ini menempati lapisan atmosfer yang tersebar dibawah hamburan Rayleigh. Hambatan ini biasanya terletak pada spectrum hijau (0,5 – 0,6 µm).
- Hambatan non solektif
Hambatan ini memiliki spectrum yang lebih besar dari spectrum Nampak dengan material seperti asap, debu, uap air, CO3 dan sebagainya. Hambatan ini memiliki ciri warna langit yang gelap (awan kumolonimbus). Hambatan dari hamburan ini memiliki fungsi yang berbeda tergantung dari unsur kimia atau material yang dikandungna. Kandungan material atau unsur kima tersebut dapat berubah tergantung da5ri kondisi permukaan bumi. Bila semakin banyak hambatan dari hamburan nonsolektif memungkinkan terjadinya penutupan pada atmosfer bagian bawah, unsur kimi mempengaruhi penyebaran pancaran matahari dan pancaran-pancaran yang dilepas menggunakan alat pengindraan jauh. Hambatan ini semakin luas dan mendesak hamburan yang lebih ringan, terutama hambatan dari hamburan unsur karbon.
# Pengaruh dan dampaknya terhadap pengindraan jauh
Akibat adanya hambatn-hambatan yang ada pada jendela atmosfer maka dapat membawa pengaruh yang sangat besar terhadap pengindraan jauh. Pengaruh-pengaruh tersebut dalah sebagai berikut :
- Menghambat proses pengukuran dari suatu objek yang diukur.
- Mengurangi ketajaman dari objek yang diukur. Misalnya: dalam proses foto udara.
- Mengurangi resolusi dan keragaman dari objek pengukuran.
- Tingkat ketilitan dalam membaca data menjadi menurun.
-Bahkan yang lebih parahnya pengukuran tidak sampai pada objek/target karna terhalang oleh hambatan-hambatan yang lebih besar.
Jumat, 07 Oktober 2016
Sejarah perkembangan inderaja
INDERAJA KELAUTAN
MUHAMMAD F. BARCINTA
NIM : 2014 - 64 - 024
PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2016
PERKEMBANGAN INDERAJA
Perkembangan System dan Wahana
Perkembangan jauh (inderaja) pada awalnya dikembangan dari teknik interpretasi foto udara.Pada tahun 1919 telah dimulai upaya pemotretan melalui pesawat terbang dan interpretasi foto udara (howard 1990). Penggunaan teknik interpretasi citra secara manual, baik dengan foto udara maupun citra non – fotografik yang diambil dari wahana selain pesawat udara dan sensor selain kamera hingga saat ini telah cukup mapan dan diakui manfaat dan akurainya. Disisi lain pengelolahan atau pemprosesan citra satelit secara digital telah taraf operasional untuk seluruh aplikasi dibidang survei – pemetaan.
Pada tahun 1903 pesawat udara baru di temukan dan uji coba terbang berhasil di lakukan, akan tetapi pemotretan dengan wahana pesawat terbang baru di mulai pada tahun 1909 di atas Centovelli, Italia, dengan pilotnya bernama Wilbur Wright, pemanfaatan citra inderaja banyak di gunakan juga selama perang dunia 1 maupun perang dunia ke II, saat itu penggunaan teknik inderaja sangat berperan dalam menentukan keberhasilan suatu misi pertempuran. Era perkembangan inderaja yang spektakuler mulai terjadi saat di temukanya roket yang membawa satelit ke ruang angkasa. Hal ini di awali dengan peluncuran satelit TIROS ( Television and Infared Observation Satellite) pada tahun 1960. Yang merupakan satelit tak berawak khusus untuk pengembangan satelit cuaca. Pada perkembangan selanjutnya di luncurkan satelit berawak seperti Merkury, Gemini, dan Apollo. Teknologi inderaja dan pemanfaatanya terus berkembang dengan pesat. Jika dahulu sensor yang di gunakan hanya kamera maka sekarang sudah banyak jenis sensor lain seperti Scanner, Magnetometer dan Sonar. Dalm disiplin ilmu geografi dan ilmu-ilmu kebumian yang lain, penggunaan tekik inderaja mejadi suatu kebutuhan. Hal ini karena citra inderaja dapat menyajikan gambaran permukaan bumi sacara nyata sehingga semua objek dan fenomena yang ada di pemukaan bumi terlihat dengan baik namun di batasi oleh ketajaman citra yang di gunakan. Keadaan ini sangat membantu sekali bagi seorang ahli geografi di dalam mempelajari objek kajian geografi seperti pola pemukiman, penggunaan lahan, hidrografi, geologi dan geomorfologi. Bahkan kajian tentang iklim di atas permukaan bumi.
Perkembangan Aplikasi
Pengindraan jauh sekarang tidak hanya menjadi alat bantu dalam menyelesaikan masalah. Begitu luasnya lingkup aplikasi pengindraan jauh sehingga dewasa ini bidang tersebut telah menjadi semacam, kerangka kerja (framework) dalam menyelesaikan berbagai masalah terkait dengan aspek ruang (lokasi, area), lingkungan (ekologis) dan kewilayahan (regional).
Pengindraan jauh di awali perkembangannya bersosiasi dengan aplikasi militer, karena gambaran wilayah yang dapat disajikan secara vertical mampu memberikan inspirasi bagi pengembangan strategi perang yang lebih efektif daripada peta. Efektivitas ini khususnya menyangkut pemantauan posisi pergerakan musuh, serta peluang penyerbuan dari titik-titik tertentu.
Penggunaan teknologi foto inframerah akhirnya juga dimanfaatkan untuk aplikasi pertanian, khususnya dalam konteks perkiraan kerapatan vegetasi, biomassa dan aktivitas fotosintesis, karena kepekaan pantulan sinar inframerah dekat ternyata berkaitan dengan struktur interal daun dan kerapatan vertical vegetasi. Foto udara inframerah juga terbukti efektif pembedaan objek air dan bukan air, sehingga pemetaan garis pantai pun sangat terbantu oleh teknologi ini.
Pergeseran Penerapan Teknologi: Dari Pemerintah ke swasta
Pada tahun 1994, pemerintah Amerika Serikat mengambil keputusan untuk mengijinkan perusahan sipil komersal untuk memasarkan data pengindraan jauh resolusi tinggi, yaitu antara 1-4 meter (Jensen, 1996). Hal ini kemungkinan berkaitan dengan berakhirnyaera Perang Dingin. Dua perusahaan swasta, yaitu Earth Watch dan Space Imaging segera menanggapi keputusan ini dengan mengeluarkan produk mereka, masing – masing adalah Earlybird dan Quickbird (Earth Wactch) dan Ikonos (Space imaging). Earlybird memberikan resolusi spasial 3 meter untuk citra pankromatik dan 15 meter untuk citra multispectral. GeoEye saat ini mampu memberikan data pada resolusi sekitar 40 cm, meksipun pemerintah Amerika Serikat membatasi distribusi dan penggunaan citra resolusi spasial tinggi hanya sampai dengan 50 cm.
Pada aras pengguna, semakin banyak perusahaan swasta yang bergerak di bidang pengindraan jauh. Lingkup kegiatan ini bukan hanya pada penguasaan penggolahan data awal hingga pemasaran pada tingkat hulu seperti EOSAT, Spacelmaging dan DigitalGlobe, melainkan juga penyediaan jasa konsultasi untuk berbagai kegiatan seperti pekerjaan umum, kehutanan, pembukaan lahan transmigrasi, hingga lahan yasan (real estate). Pergeseran ini membawa implikasi pada kemampuan akses data penting kewilayahan yang sebelumnya hanya dikuasai oleh negara (khususnya militer) ke pihak swasta. Pertukaran dan jual – beli data resolusi tinggi saat ini semakin sulit untuk diawasi dan diatur oleh negara, mengingat bahwa lalu lintas data telah dapat dilakukan secara bebas melalui jaringan internet.
PERKEMBANGAN TEKNIK ANALISA
Dari manual ke digital
Ketika berbagai negara berkembang masih memiliki akses terbatas ke sisten computer untuk pengelolaan citra digital, pemanfaatan produk pengindrajaan jauh satelit masih masih berupa citra tercetak (hard copy) yang diinterprestasi secara visual atau manual. Teknik interprestasi semacam ini telah berkembang pesat dalam pengindrajaan jauh system fotografik, dan hingga saat ini merupakan teknik yang dipandang mapan. Prinsip – prinsip interpretasi fotografis dapat di terapkan pada citra satelit yang telah dicetak, dan memberikan banyak informasi mengenai fenomena spasial di permukaan bumi pada skala regional. Citra – citra satelit yang telah tercetak ini memberikan keuntungan terutama dalam hal (a) kemudahan analisis regional secara cepat (karena dimungkinkannya synoptic overview pada satu lembar citra berukuran 60 km x 60 km sampai dengan 180 km x 185 km), dan (b) kemudahan pemindahan hasil interpretasi (plotting) ke peta dasar, karena tidak memeperlukan banyak lembar dengan skala yang berbeda – beda dan mempunyai distorsi geometri yang relative lebih rendah dibandingkan foto udara.
Teknologi SIG sebenarnya telah dimulai pada akhir tahun 1960-an, antara lain oleh Tomlinson (Marble dan Pequet, 1990). Kemudian pada decade 1970-an beberapa negara bagian di Amerika Serikat telah memulai untuk menerapkan SIG dalam pengelolahan sumberdaya lahan dan perencanaan wilayah. Pada serikat tahun 1979, Jack Dangermond mengawali pengembangan paket perangkat lunak. SIG yang sangat terkenal, yaitu Arc/Info untuk mengisi pasar komersia (Rhind et al., 2004). Setelah itu, puluhan bahkan ratusan macam paket perangkat lunak SIG, yang sebagian besar di antaranya dioperasikan untuk PC, membanjiri pasar dunia. Kebutuhan akan fasilitas pengelolahan citra digital yang sekaligus dilengkapi dengan fasilitas SIG telah membuka kemungkinan – kemungkinan baru dalam analisis data spasial. System pengelolah citra satelit dapat memberikan masukan pada SIG berupa peta – peta tematik hasil ekstraksi informasi dari citra digital satelit.
Dari Multispectral ke Hiperspektral
Pada awal perkembangannya, kamera hanya mampumenghasilkan foto hitam-putih hal yang sama diberikan oleh foto yang dipasang pada pesawat udara untuk kebutuhan pengintaian dalam aplikasi militer. Kehadiran film berwarna pun secara cepat berimbas pada penggunaan lebih intensif dalam prnginderajaan jauh berbasis foto udara. Tahap ini menandai perkembangan system pemotretan dari yang bersifat unispektral(saluran tunggal) dan berjulat spectral lebar misalnya dari biru hingga merah ke system pemotretan multispectral. Analisis visual foto udara pankromatik, baik hitam putih maupun berwarna pun kemudian bergeser ke analisis multispectral sederhana, dengan memanfaatkan alat pemandu warna elektrik seperti additive colour viewer (ACV).
ACV merupakan suatu antarmuka (interface) yang dapat digunakan untuk menampilkan diapositif film multispectral dengan penyinaran warna primer (merah, hijau, biru) untuk masing masing saluran.
Dengan tersedianya system ini perekam citra digital, maka citra multispectral pun diolah dengan computer dan setiap kombinasi warna dalam bentuk citra komposit bisa dihasilkan dengan mudah.
Dari per-pixel ke per-objek
Perkembangan system pengindrajaan jauh satelit menghasilkan citra citra yang tidak pernah dibayangkan oleh praktisi ditahun 1980-an, yaitu citra multispectral dengan kualitas detil yang mendekati atau bahkan menyamai foto udara. Hal ini tidak lepas dari berakhirnya perang dingin diawal 1990-an dan keputusan presiden Bill Clinton untuk mengijinkan perusahan – perusahan swasta mengoperasikan satelit pengindrajaan jauh dengan satelit mata – mata. Saat ini satelit GeoEye telah mampu menghasilkan citra digital dengan resolusi spasial sekitar 40 cm, meskipun undang – undang di Amerika Serikat hanya menginginkan citra tersebut diproses dan digunakan oleh public pada resolusi spasial 50 cm atau lebih kasar. Kehadiran citra resolusi spasial tinggi telah menantang para analis citra untuk mengembangkan metode ekstraksi informasi tematik yang berbeda dengan klasifikasi multispectral yang biasa diterapkan pada citra resolusi spasial menengah dan rendah. Metode ini dikenal dengan nama klasifikasi objek (object – based classification). Di Indonesia, citra resolusi spasial tinggi lebih banyak diperlakukan seperti foto udara karena para analis mengalami kesulitan dalam menerapkan klasifikasi multispectral terhadap citra semacam itu. Pada klasifikasi multispectral citra resolusi tinggi, satu piksel merupakan bagian dari objek penutup lahan yang umumnya berukuran jauh lebih besar, sehingga hasil klasifikasi cenderung merupakan kumpulan piksel yang tidak berkaitan langsung dengan kategorisasi objek yang dikembangkan dalam klasifikasi (Danoedoro, 2006). Untuk mengatasi masalah ini , dalam kurun 10 tahu terakhir mulai berkembang metode klasifikasi berbasis objek, yang memanfaatkan teknik segmentasi citra (Baatz dan Schappe, 2000; Ranasinghe, 2006; Navulur 2007).
Perkembangan Inderaja di Indonesia
Perkembangan jauh (inderaja) pada awalnya dikembangan dari teknik interpretasi foto udara.Pada tahun 1919 telah dimulai upaya pemotretan melalui pesawat terbang dan interpretasi foto udara (howard 1990). Penggunaan teknik interpretasi citra secara manual, baik dengan foto udara maupun citra non – fotografik yang diambil dari wahana selain pesawat udara dan sensor selain kamera hingga saat ini telah cukup mapan dan diakui manfaat dan akurainya. Disisi lain pengelolahan atau pemprosesan citra satelit secara digital telah taraf operasional untuk seluruh aplikasi dibidang survei – pemetaan.
Di Indonesia, penggunaan foto udara untuk survei – pemetaan sumberdaya alam telah dimulai oleh beberapa lembaga pada awal tahun1970-an. Pada periode yang sama, ketika berbagai lembaga di Indonesia masih belajar memanfaatkan foto udara Amerika Serikat pada tahun 1972 telahmeluncurkan satelit sumberdaya ERTS-1 (Earth Resources Technology Satellite – 1), yang kemudian diberi nama baru menjadi Landsat-1. Satelit ini mampu merekam hamper seluruh permukaan bumi pada beberapa spectra panjang gelombang, dan dengan resolusi spasial sekitar 80 meter. Sepuluh tahun kemudian, Amerika Serikat telah meluncurkan satelit sumberdaya Landsat-4 (Landsat-D) yang merupakan satelit sumberdaya generasi kedua, dengan memasang sensor baru Thematic Mapper yang mempunyai resolusi yang jauh lebih tinggi daripada pendahulunya, yaitu 30 meter pada enam saluran spectral pantulan dan 120 meter pada satu saluran spectral pancarantermal. Pada tahun yang hamper bersamaan itu pula, beberapa lembaga di Indonesia baru mulai memasang system computer pengelolah citra digital satelit, dan menjadi salah satu negara yang termasuk awal di Asia Tenggara dalam penerapan system pengelolah citra digital. Meksipun pengembangan dan pemanfaatan teknologi.
Langganan:
Postingan (Atom)
