INDERAJA KELAUTAN
MUHAMMAD F. BARCINTA
NIM : 2014 - 64 - 024
PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2016
PERKEMBANGAN INDERAJA
Perkembangan System dan Wahana
Perkembangan jauh (inderaja) pada awalnya dikembangan dari teknik interpretasi foto udara.Pada tahun 1919 telah dimulai upaya pemotretan melalui pesawat terbang dan interpretasi foto udara (howard 1990). Penggunaan teknik interpretasi citra secara manual, baik dengan foto udara maupun citra non – fotografik yang diambil dari wahana selain pesawat udara dan sensor selain kamera hingga saat ini telah cukup mapan dan diakui manfaat dan akurainya. Disisi lain pengelolahan atau pemprosesan citra satelit secara digital telah taraf operasional untuk seluruh aplikasi dibidang survei – pemetaan.
Pada tahun 1903 pesawat udara baru di temukan dan uji coba terbang berhasil di lakukan, akan tetapi pemotretan dengan wahana pesawat terbang baru di mulai pada tahun 1909 di atas Centovelli, Italia, dengan pilotnya bernama Wilbur Wright, pemanfaatan citra inderaja banyak di gunakan juga selama perang dunia 1 maupun perang dunia ke II, saat itu penggunaan teknik inderaja sangat berperan dalam menentukan keberhasilan suatu misi pertempuran. Era perkembangan inderaja yang spektakuler mulai terjadi saat di temukanya roket yang membawa satelit ke ruang angkasa. Hal ini di awali dengan peluncuran satelit TIROS ( Television and Infared Observation Satellite) pada tahun 1960. Yang merupakan satelit tak berawak khusus untuk pengembangan satelit cuaca. Pada perkembangan selanjutnya di luncurkan satelit berawak seperti Merkury, Gemini, dan Apollo. Teknologi inderaja dan pemanfaatanya terus berkembang dengan pesat. Jika dahulu sensor yang di gunakan hanya kamera maka sekarang sudah banyak jenis sensor lain seperti Scanner, Magnetometer dan Sonar. Dalm disiplin ilmu geografi dan ilmu-ilmu kebumian yang lain, penggunaan tekik inderaja mejadi suatu kebutuhan. Hal ini karena citra inderaja dapat menyajikan gambaran permukaan bumi sacara nyata sehingga semua objek dan fenomena yang ada di pemukaan bumi terlihat dengan baik namun di batasi oleh ketajaman citra yang di gunakan. Keadaan ini sangat membantu sekali bagi seorang ahli geografi di dalam mempelajari objek kajian geografi seperti pola pemukiman, penggunaan lahan, hidrografi, geologi dan geomorfologi. Bahkan kajian tentang iklim di atas permukaan bumi.
Perkembangan Aplikasi
Pengindraan jauh sekarang tidak hanya menjadi alat bantu dalam menyelesaikan masalah. Begitu luasnya lingkup aplikasi pengindraan jauh sehingga dewasa ini bidang tersebut telah menjadi semacam, kerangka kerja (framework) dalam menyelesaikan berbagai masalah terkait dengan aspek ruang (lokasi, area), lingkungan (ekologis) dan kewilayahan (regional).
Pengindraan jauh di awali perkembangannya bersosiasi dengan aplikasi militer, karena gambaran wilayah yang dapat disajikan secara vertical mampu memberikan inspirasi bagi pengembangan strategi perang yang lebih efektif daripada peta. Efektivitas ini khususnya menyangkut pemantauan posisi pergerakan musuh, serta peluang penyerbuan dari titik-titik tertentu.
Penggunaan teknologi foto inframerah akhirnya juga dimanfaatkan untuk aplikasi pertanian, khususnya dalam konteks perkiraan kerapatan vegetasi, biomassa dan aktivitas fotosintesis, karena kepekaan pantulan sinar inframerah dekat ternyata berkaitan dengan struktur interal daun dan kerapatan vertical vegetasi. Foto udara inframerah juga terbukti efektif pembedaan objek air dan bukan air, sehingga pemetaan garis pantai pun sangat terbantu oleh teknologi ini.
Pergeseran Penerapan Teknologi: Dari Pemerintah ke swasta
Pada tahun 1994, pemerintah Amerika Serikat mengambil keputusan untuk mengijinkan perusahan sipil komersal untuk memasarkan data pengindraan jauh resolusi tinggi, yaitu antara 1-4 meter (Jensen, 1996). Hal ini kemungkinan berkaitan dengan berakhirnyaera Perang Dingin. Dua perusahaan swasta, yaitu Earth Watch dan Space Imaging segera menanggapi keputusan ini dengan mengeluarkan produk mereka, masing – masing adalah Earlybird dan Quickbird (Earth Wactch) dan Ikonos (Space imaging). Earlybird memberikan resolusi spasial 3 meter untuk citra pankromatik dan 15 meter untuk citra multispectral. GeoEye saat ini mampu memberikan data pada resolusi sekitar 40 cm, meksipun pemerintah Amerika Serikat membatasi distribusi dan penggunaan citra resolusi spasial tinggi hanya sampai dengan 50 cm.
Pada aras pengguna, semakin banyak perusahaan swasta yang bergerak di bidang pengindraan jauh. Lingkup kegiatan ini bukan hanya pada penguasaan penggolahan data awal hingga pemasaran pada tingkat hulu seperti EOSAT, Spacelmaging dan DigitalGlobe, melainkan juga penyediaan jasa konsultasi untuk berbagai kegiatan seperti pekerjaan umum, kehutanan, pembukaan lahan transmigrasi, hingga lahan yasan (real estate). Pergeseran ini membawa implikasi pada kemampuan akses data penting kewilayahan yang sebelumnya hanya dikuasai oleh negara (khususnya militer) ke pihak swasta. Pertukaran dan jual – beli data resolusi tinggi saat ini semakin sulit untuk diawasi dan diatur oleh negara, mengingat bahwa lalu lintas data telah dapat dilakukan secara bebas melalui jaringan internet.
PERKEMBANGAN TEKNIK ANALISA
Dari manual ke digital
Ketika berbagai negara berkembang masih memiliki akses terbatas ke sisten computer untuk pengelolaan citra digital, pemanfaatan produk pengindrajaan jauh satelit masih masih berupa citra tercetak (hard copy) yang diinterprestasi secara visual atau manual. Teknik interprestasi semacam ini telah berkembang pesat dalam pengindrajaan jauh system fotografik, dan hingga saat ini merupakan teknik yang dipandang mapan. Prinsip – prinsip interpretasi fotografis dapat di terapkan pada citra satelit yang telah dicetak, dan memberikan banyak informasi mengenai fenomena spasial di permukaan bumi pada skala regional. Citra – citra satelit yang telah tercetak ini memberikan keuntungan terutama dalam hal (a) kemudahan analisis regional secara cepat (karena dimungkinkannya synoptic overview pada satu lembar citra berukuran 60 km x 60 km sampai dengan 180 km x 185 km), dan (b) kemudahan pemindahan hasil interpretasi (plotting) ke peta dasar, karena tidak memeperlukan banyak lembar dengan skala yang berbeda – beda dan mempunyai distorsi geometri yang relative lebih rendah dibandingkan foto udara.
Teknologi SIG sebenarnya telah dimulai pada akhir tahun 1960-an, antara lain oleh Tomlinson (Marble dan Pequet, 1990). Kemudian pada decade 1970-an beberapa negara bagian di Amerika Serikat telah memulai untuk menerapkan SIG dalam pengelolahan sumberdaya lahan dan perencanaan wilayah. Pada serikat tahun 1979, Jack Dangermond mengawali pengembangan paket perangkat lunak. SIG yang sangat terkenal, yaitu Arc/Info untuk mengisi pasar komersia (Rhind et al., 2004). Setelah itu, puluhan bahkan ratusan macam paket perangkat lunak SIG, yang sebagian besar di antaranya dioperasikan untuk PC, membanjiri pasar dunia. Kebutuhan akan fasilitas pengelolahan citra digital yang sekaligus dilengkapi dengan fasilitas SIG telah membuka kemungkinan – kemungkinan baru dalam analisis data spasial. System pengelolah citra satelit dapat memberikan masukan pada SIG berupa peta – peta tematik hasil ekstraksi informasi dari citra digital satelit.
Dari Multispectral ke Hiperspektral
Pada awal perkembangannya, kamera hanya mampumenghasilkan foto hitam-putih hal yang sama diberikan oleh foto yang dipasang pada pesawat udara untuk kebutuhan pengintaian dalam aplikasi militer. Kehadiran film berwarna pun secara cepat berimbas pada penggunaan lebih intensif dalam prnginderajaan jauh berbasis foto udara. Tahap ini menandai perkembangan system pemotretan dari yang bersifat unispektral(saluran tunggal) dan berjulat spectral lebar misalnya dari biru hingga merah ke system pemotretan multispectral. Analisis visual foto udara pankromatik, baik hitam putih maupun berwarna pun kemudian bergeser ke analisis multispectral sederhana, dengan memanfaatkan alat pemandu warna elektrik seperti additive colour viewer (ACV).
ACV merupakan suatu antarmuka (interface) yang dapat digunakan untuk menampilkan diapositif film multispectral dengan penyinaran warna primer (merah, hijau, biru) untuk masing masing saluran.
Dengan tersedianya system ini perekam citra digital, maka citra multispectral pun diolah dengan computer dan setiap kombinasi warna dalam bentuk citra komposit bisa dihasilkan dengan mudah.
Dari per-pixel ke per-objek
Perkembangan system pengindrajaan jauh satelit menghasilkan citra citra yang tidak pernah dibayangkan oleh praktisi ditahun 1980-an, yaitu citra multispectral dengan kualitas detil yang mendekati atau bahkan menyamai foto udara. Hal ini tidak lepas dari berakhirnya perang dingin diawal 1990-an dan keputusan presiden Bill Clinton untuk mengijinkan perusahan – perusahan swasta mengoperasikan satelit pengindrajaan jauh dengan satelit mata – mata. Saat ini satelit GeoEye telah mampu menghasilkan citra digital dengan resolusi spasial sekitar 40 cm, meskipun undang – undang di Amerika Serikat hanya menginginkan citra tersebut diproses dan digunakan oleh public pada resolusi spasial 50 cm atau lebih kasar. Kehadiran citra resolusi spasial tinggi telah menantang para analis citra untuk mengembangkan metode ekstraksi informasi tematik yang berbeda dengan klasifikasi multispectral yang biasa diterapkan pada citra resolusi spasial menengah dan rendah. Metode ini dikenal dengan nama klasifikasi objek (object – based classification). Di Indonesia, citra resolusi spasial tinggi lebih banyak diperlakukan seperti foto udara karena para analis mengalami kesulitan dalam menerapkan klasifikasi multispectral terhadap citra semacam itu. Pada klasifikasi multispectral citra resolusi tinggi, satu piksel merupakan bagian dari objek penutup lahan yang umumnya berukuran jauh lebih besar, sehingga hasil klasifikasi cenderung merupakan kumpulan piksel yang tidak berkaitan langsung dengan kategorisasi objek yang dikembangkan dalam klasifikasi (Danoedoro, 2006). Untuk mengatasi masalah ini , dalam kurun 10 tahu terakhir mulai berkembang metode klasifikasi berbasis objek, yang memanfaatkan teknik segmentasi citra (Baatz dan Schappe, 2000; Ranasinghe, 2006; Navulur 2007).
Perkembangan Inderaja di Indonesia
Perkembangan jauh (inderaja) pada awalnya dikembangan dari teknik interpretasi foto udara.Pada tahun 1919 telah dimulai upaya pemotretan melalui pesawat terbang dan interpretasi foto udara (howard 1990). Penggunaan teknik interpretasi citra secara manual, baik dengan foto udara maupun citra non – fotografik yang diambil dari wahana selain pesawat udara dan sensor selain kamera hingga saat ini telah cukup mapan dan diakui manfaat dan akurainya. Disisi lain pengelolahan atau pemprosesan citra satelit secara digital telah taraf operasional untuk seluruh aplikasi dibidang survei – pemetaan.
Di Indonesia, penggunaan foto udara untuk survei – pemetaan sumberdaya alam telah dimulai oleh beberapa lembaga pada awal tahun1970-an. Pada periode yang sama, ketika berbagai lembaga di Indonesia masih belajar memanfaatkan foto udara Amerika Serikat pada tahun 1972 telahmeluncurkan satelit sumberdaya ERTS-1 (Earth Resources Technology Satellite – 1), yang kemudian diberi nama baru menjadi Landsat-1. Satelit ini mampu merekam hamper seluruh permukaan bumi pada beberapa spectra panjang gelombang, dan dengan resolusi spasial sekitar 80 meter. Sepuluh tahun kemudian, Amerika Serikat telah meluncurkan satelit sumberdaya Landsat-4 (Landsat-D) yang merupakan satelit sumberdaya generasi kedua, dengan memasang sensor baru Thematic Mapper yang mempunyai resolusi yang jauh lebih tinggi daripada pendahulunya, yaitu 30 meter pada enam saluran spectral pantulan dan 120 meter pada satu saluran spectral pancarantermal. Pada tahun yang hamper bersamaan itu pula, beberapa lembaga di Indonesia baru mulai memasang system computer pengelolah citra digital satelit, dan menjadi salah satu negara yang termasuk awal di Asia Tenggara dalam penerapan system pengelolah citra digital. Meksipun pengembangan dan pemanfaatan teknologi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar